Profil | Desa

Kampung Adat Urug berlokasi di Desa Urug Kecamatan Sukajaya. Jalan menuju Desa Urug arahnya menuju Wilayah Barat pada pertigaan Kecamatan Cigudeg. Arah Barat Daya menuju Kecamatan Sukajaya ±15 km dan dari Kecamatan ini ditempuh lagi jarak ±9 km untuk menuju lokasi tersebut. Kampung Adat Urug merupakan sisa peradaban silam yang saat ini masih lekat dengan nilai-nilai adat dan tradisinya. Nilai-nilai ketradisian yang dipertahankan dan dikendalikan oleh kepala adat Urug.

Tradisi budaya lama yang masih dipegang kokoh oleh masyarakat Urug adalah :

  1. Pola Pemukiman
    1. Seni Bangunan :

Bangunan dari bahan kayu dan atap yang menggunakan bahan dasar daun kirai yang dibentuk menjadi hateup. Bentuk rumah yang disebut rumah panggung yang memiliki kolong berfungsi sebagai penanggulangan apabila terjadi banjir atau gempa bumi atau digunakan untuk tempat pemeliharaan binatang ternak, seperti ayam, atau bisa juga untuk menyimpan alat-alat kebutuhan sehari-hari seperti alat pertanian dan sebagainya. Serta lumbung padi yang dinamakan Leuit. Semua bangunan tersebut mencirikan rumah adat yang menjadi komponen penguat Desa Urug disebut dengan Desa Adat.

  1. Arsitektur bangunan :

Bentuk rumah yang bercorak pada tradisi kesundaan (julang ngapak dan jago anjing). Rumah panggung merupakan salah satu jenis rumah adat masyarakat Jawa Barat. Dalam bahasa Indonesia Julang Ngapak artinya burung yang sedang mengepakkan sayapnya. Arti tersebut diambil dari kata julang yang berarti burung dan ngapak yang berarti mengepakkan. Rumah adat ini disebut julang ngapak karena desain atap rumahnya sama persis seperti seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya. Untuk masuk rumah adat julang ngapak disediakan tangga yang disebut Golodog, biasanya terbuat dari kayu atau bambu yang berfungsi untuk membersihkan kaki sebelum masuk kedalam rumah adat. Golodog biasanya memiliki 3 anak tangga.

  1. Kekerabatan :

Masyarakat menempati tempat tinggal di Kampung Urug yang padat ini, satu sama lain adalah masih saudara, kampung ini dikenal dengan sebutan Tatali Kahuripan. Selain kental dengan adat dan tradisinya juga kental dengan hubungan sosialnya. Rasa saling tolong menolong adalah makanan sehari-hari mereka. Setiap tradisi yang mereka jalankan memiliki kekuatan untuk me-recharge tali kahuripan masyarakat Urug.

  1. Kepemimpinan :

Kampung Adat Urug terdapat rumah Adat Gedong tepatnya berada di Urug Leubak yang menjadi central kewenangan pimpinan adat. Tak hanya itu Rumah adat Gedong Paniisan dan Gedong Leutik juga ikut menghiasi corak kampung bersejarah ini. Kepemimpinan adat dipegang oleh Abah Kolot Ukat, yang merupakan keturunan ke 11 dari turunan terdahulunya. Terdapat 3 kepemimpinan yang mengendalikan keberadaan kampung legendaris ini antara lain :

  1. Abah Kolot Ukat atau disebut juga Kokolot Leubak, mempunyai tugas mengendalikan dan mempertahankan adat istiadat yang sudah turun temurun antara lain : Acara seren taun, ruwatan, hari-hari besar kaum muslimin dan memimpin kegiatan yang dianggap sakral.
  2. Abah Kolot Amat atau disebut juga Kokolot Tengah, bertugas mengatur masyarakat, pengerahan masa dan memberikan petunjuk bagi kesepakatan adat yang sedang dijalankan.
  3. Abah Kolot Luhur bernama Sukardi disamping menjalankan petunjuk untuk penanaman padi secara turun temurun dalam kesempatan ini beliau juga mempertahankan adat istiadat urug, selalu berperan sebagai “Pendongeng“ yaitu menceritakan Sejarah Kampung Urug, silsilah, riwayat yang berhubungan dengan nilai-nilai tradisional Kampung Urug serta cerita yang mengaitkan raja-raja Padjajaran dengan Kampung Urug.

Riwayat Kampung Urug :

Urug bukan terucap nama dengan begitu saja, dibalik kata itu tersembunyi kata “GURU“, menurut pikukuh adat kepercayaan Kampung Urug, sudah berdiri sejak 450 tahun yang lalu, adanya sebuah mandala Urug dengan masyarakatnya yang berpegang teguh kepada adat istiadat akan memegang suatu keteladanan kesundaan. Menurut cerita Kampung Urug  sejaman dengan masa pemerintahan Prabu Nilakendra (1551-1569 M) beliau seorang raja alim dan bijaksana dan banyak mengabdi pada hal-hal keghaiban, konon sisa-sisa pengabdiannya diantaranya patilasan raja masih ada di Kampung Urug, umumnya patilasan disebut Kabuyutan atau mandala yaitu suatu tempat yang jauh dari keramaian yang dijadikan tempat berkhalwat atau memuja sang maha pencipta adalah mungkin hal ihwal mula adanya mandala urug dimulai dari Gedong Ageung.
Menurut data yang ada Kampung Adat Urug mempunyai tingkat kunjungan wisata rata-rata 80-100 orang setiap bulan dan jika pada hari-hari besar bisa mencapai 600-800 orang per hari.

© 2005-2019 Desa Urug Jaya | Sukamaju Kabupaten Bogor